Membangun rumah atau renovasi bukan hanya soal desain dan biaya, tapi juga soal siapa yang mengelola proyeknya. Di sinilah pentingnya mengenali ciri kontraktor syariah yang benar-benar amanah dan bisa dipercaya.
Bagi Anda yang baru mulai merencanakan pembangunan, memahami dasar-dasar syariah dalam setiap tahap sangat penting. Untuk panduan lebih menyeluruh, silakan baca panduan lengkap bangun rumah syariah yang membahas dari konsep hingga pelaksanaannya.
Karena kenyataannya, banyak kontraktor memakai label “syariah” hanya untuk menarik klien Muslim, padahal praktiknya jauh dari prinsip Islam. Ada yang mencampur akad, ada yang tidak transparan dalam biaya, bahkan ada kasus dana proyek ditransfer ke rekening pribadi.
Agar Anda tidak salah pilih, mari kita kupas bersama 5 ciri kontraktor syariah yang benar — agar proyek berjalan lancar, amanah, dan sesuai tuntunan syariah.
Menggunakan Akad yang Jelas dan Tegas sebagai Ciri Kontraktor Syariah
Hal paling mendasar yang membedakan kontraktor syariah amanah dengan kontraktor biasa bukan pada harga semata, melainkan pada akad syariah yang jelas, tegas, dan transparan.
Prinsip ini bersumber dari firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 282: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, maka hendaklah kamu menuliskannya…”
Ayat ini menjadi rujukan penting bagi kontraktor syariah terpercaya: setiap kerja sama harus tertulis agar amanah dan tidak menimbulkan perselisihan.
Karena itu, ciri kontraktor syariah yang benar selalu ditandai dengan akad resmi, dituangkan secara jelas, ditandatangani pihak berwenang, serta disepakati bersama sejak awal.

Selain itu, kontraktor syariah yang konsisten pada prinsip Islam tidak akan menggunakan akad ganda (double akad) dalam satu transaksi. Rasulullah ﷺ telah melarang praktik ini dalam haditsnya: “Nabi ﷺ melarang dua akad dalam satu akad.” (HR. Ahmad dan an-Nasā’ī). Larangan ini menunjukkan bahwa jika sebuah kontrak menggabungkan dua akad sekaligus, maka akad tersebut menjadi batal. Itulah sebabnya kontrak syariah harus sederhana, jelas, dan satu akad dalam satu perjanjian, agar tidak menyalahi syariat.
Tanpa akad yang sah dan transparan, proyek berisiko menimbulkan kerugian dan meruntuhkan kepercayaan antara pemilik proyek dan kontraktor.
Contoh Kasus Didik Subiyantoro: Akad Cacat pada Kontraktor Syariah
Beberapa waktu lalu, sempat ramai di media sosial sebuah kasus kontraktor berlabel syariah yang dikaitkan dengan nama Didik Subiyantoro.
Dalam salah satu berita yang dimuat di Kilat.com , disebutkan bahwa kontrak dengan klien justru ditandatangani oleh sopir, bahkan pembayaran proyek diarahkan ke rekening pribadi seorang satpam. Praktik semacam ini jelas menyalahi prinsip amanah dan transparansi yang seharusnya menjadi fondasi utama kontraktor syariah. Kasus ini mirip dengan bagaimana sebagian kontraktor sering mencampur akad, yang pada akhirnya membuat proyek gagal berjalan sesuai prinsip Islam, sebagaimana dibahas di artikel tentang kontraktor gagal jalankan prinsip syariah.
Namun perlu dicatat, hingga kini belum ada sumber kredibel lain yang menguatkan kabar tersebut selain situs kilat.com. Artinya, kasus ini tidak bisa dihukumi secara pasti benar atau salahnya. Bagi kita, yang terpenting bukan pada sosoknya, tetapi pelajaran dari praktik yang mungkin saja terjadi di dunia kontraktor.
Bisa saja benar terjadi, bisa juga tidak.
Intinya, jika Anda menemukan kontraktor yang meminta akad ditandatangani oleh pihak tidak berwenang, atau mengarahkan pembayaran ke rekening pribadi alih-alih rekening resmi perusahaan, maka patut untuk curiga. Ciri kontraktor syariah yang bisa dipercaya justru kebalikannya: akad resmi, tertulis, transparan, dan pembayaran hanya melalui rekening perusahaan.
Menyoroti Akad Istishna — Kapan Sah dan Kapan Tidak
Kebanyakan kontraktor berlabel syariah di masa kini mengklaim menggunakan akad istisna dalam proyek pembangunan rumah. Karena itu, sebagai konsumen, Anda perlu ekstra waspada.
Dalam fiqih klasik, akad istisna memang dibolehkan untuk objek pesanan yang jelas spesifikasinya dan bisa diserahterimakan setelah selesai. Misalnya, baju dari penjahit, mimbar dari tukang kayu, atau furnitur dari pengrajin. Barang-barang itu dibuat, selesai, lalu diserahkan kepada pemesan.
Namun, rumah atau bangunan permanen berbeda. Begitu pembangunan atau renovasi dimulai, objek rumah otomatis menempel pada tanah milik pemilik proyek begitu juga dengan renovasi, bahan langsung menempel dirumah induk.
Karena sudah melekat ke tanah pemilik (atau bangunan pemilik, dalam kasus renovasi), bagaimana mungkin ada proses serah terima layaknya jual beli?
Inilah yang membuat akad istisna tidak tepat digunakan dalam pembangunan rumah. Jika tetap dipaksakan, akad menjadi cacat dan batal karena tidak memenuhi syarat jual beli yang sah dalam syariah.
Itulah sebabnya, ciri kontraktor syariah yang benar tidak menggunakan akad istisna untuk proyek rumah.
Mereka memilih akad yang pasti sesuai syariat, seperti wakalah atau ijarah, agar transaksi jelas, sah, dan bebas dari gharar yang bisa merugikan kedua belah pihak.
Solusi Islam: Akad Wakalah sebagai Ciri Kontraktor Syariah yang Benar
Berbeda dengan akad istisna yang rawan menimbulkan masalah akad, solusi yang paling sesuai syariah adalah akad wakalah.
Dalam akad wakalah ini, pemilik proyek memberikan kuasa kepada kontraktor untuk mengelola pembangunan atau renovasi atas nama dirinya.
Kontraktor tidak berperan sebagai penjual barang, melainkan sebagai wakil yang menjalankan amanah: mulai dari pembelian material, pengaturan tukang, hingga pengawasan pekerjaan.
Dengan sistem wakalah, semua peran menjadi transparan.

Pemilik proyek tetap memegang kepemilikan penuh atas rumah dan material, sementara kontraktor hanya mengelola sesuai mandat yang diberikan. Inilah yang membuat akad wakalah sejalan dengan prinsip muamalah Islam: jelas, amanah, tanpa gharar, dan bebas dari akad ganda.
Di Nata Bata, akad wakalah inilah yang menjadi dasar setiap kerja sama. Kami tidak pernah mengambil keuntungan dari markup material, markup gaji tukang, ataupun biaya tersembunyi lainnya. Seluruh alur keuangan terbuka dan dapat dipantau, sehingga klien tahu persis ke mana dana digunakan.
Ciri kontraktor syariah yang benar adalah mereka yang menjaga amanah bukan hanya lewat kata-kata, tetapi lewat akad yang lurus dan praktik yang transparan.
Alternatif Solusi: Menggunakan Akad Ijarah
Selain wakalah, ada juga akad ijarah yang bisa digunakan dalam proyek konstruksi.
Berbeda dengan wakalah yang memberi kuasa penuh kepada kontraktor untuk mengelola pembangunan, akad ijarah lebih fokus pada penyewaan jasa. Dalam konteks ini, kontraktor hanya menyediakan layanan tertentu, misalnya desain rumah, pengawasan lapangan, atau tenaga tukang harian, sementara pengadaan material tetap ditanggung pemilik proyek.
Akad ijarah cocok dipakai ketika lingkup pekerjaan terbatas pada keahlian atau tenaga, bukan keseluruhan proyek. Misalnya, Anda hanya membutuhkan jasa pengawasan agar pekerjaan tukang berjalan sesuai rencana, atau jasa desain interior yang sesuai prinsip syariah. Semua ini bisa diatur dengan akad ijarah yang jelas, sehingga tidak terjadi tumpang tindih antara jasa dan barang.
Kontraktor syariah amanah tidak akan mencampuradukkan akad ijarah dengan akad lain dalam satu kontrak, karena Rasulullah ﷺ melarang adanya akad ganda dalam satu perjanjian. Dengan ijarah yang tertulis dan transparan, Anda tetap mendapat kepastian harga jasa sekaligus menjaga transaksi tetap sesuai tuntunan syariah.
Transparan dalam Anggaran dan Biaya — Ciri Kontraktor Syariah Terpercaya
Selain akad yang jelas, ciri kontraktor syariah terpercaya juga terlihat dari bagaimana mereka menyusun anggaran.
Kontraktor yang amanah tidak pernah menutup-nutupi biaya, apalagi mengambil keuntungan tersembunyi dari harga material. Justru sebaliknya, mereka menyajikan transparansi biaya sejak awal melalui RAB (Rencana Anggaran Biaya) yang detail dan mudah dipahami.
Dengan cara ini, Anda tahu persis berapa biaya tenaga kerja, material, hingga margin keuntungan jasa pengelolaan proyek.
Jika ada perubahan desain atau tambahan pekerjaan, kontraktor syariah yang profesional akan membuat addendum tertulis yang disepakati bersama. Transparansi ini bukan hanya soal angka, tetapi juga soal menjaga amanah, sehingga proyek berjalan tanpa kecurigaan atau konflik di kemudian hari.
RAB Kontraktor Syariah yang Jelas Sejak Awal
Dalam praktik umum, banyak kontraktor menyusun RAB (Rencana Anggaran Biaya) yang sudah ditambahkan margin keuntungan di dalamnya. Akibatnya, pemilik proyek sering kali tidak tahu mana biaya riil di lapangan dan mana yang sudah dimarkup. Bagi Anda yang ingin memahami lebih jauh, ada baiknya juga membaca tips menyusun RAB rumah agar bisa menilai perbedaan metode yang digunakan kontraktor.
Di Nata Bata, sistem yang digunakan berbeda. Kami tidak memakai RAB versi kontraktor, melainkan RAP (Rencana Anggaran Produksi). Semua komponen dicatat murni sebagai biaya produksi: material, upah tukang, hingga biaya pendukung lain. Tidak ada markup tersembunyi, tidak ada keuntungan yang diselipkan. Keuntungan Nata Bata hanya berasal dari ujrah pengelolaan proyek dan sewa alat, sesuai prinsip akad wakalah.
Sebagai contoh, berikut cuplikan RAP nyata yang digunakan Nata Bata pada proyek renovasi atap dan plafon rumah tinggal di Bantul, Yogyakarta (2025).

Dari gambar tabel ini jelas terlihat bahwa semua biaya dicatat apa adanya sebagai biaya produksi, tanpa ada margin tersembunyi.
Untuk versi lengkapnya, Anda bisa melihat dokumen RAP Nata Bata di sini:
📄 Download lampiran RAP Nata Bata: RAP Ganti Atap Rumah Tinggal (PDF)
Dokumen ini transparan, menyajikan daftar material dan ongkos tukang secara detail, sehingga klien tahu persis ke mana dana dialokasikan.
Dengan sistem RAP ini, konsumen bahkan bisa menggunakan dokumen tersebut sebagai bahan perbandingan dengan kontraktor lain, termasuk saat menghitung estimasi biaya bangun rumah per meter. Inilah bukti bahwa ciri kontraktor syariah yang amanah tidak hanya diucapkan, tapi dipraktikkan dalam laporan anggaran yang terbuka dan bisa diverifikasi.
Selain itu, dalam skema akad wakalah murni yang digunakan Nata Bata, ada beberapa ketentuan penting:
- Seluruh nota asli pembelian material dan pembayaran tukang diberikan langsung kepada klien.
- Tidak ada markup harga material, upah tukang, atau biaya tersembunyi lainnya.
- Jika toko material memberikan diskon atau cashback, maka 100% dikembalikan kepada klien.
- Keuntungan Nata Bata hanya berasal dari ujrah jasa pengelolaan proyek dan penyewaan alat, yang disepakati di awal secara transparan, fix dan bukan prosentase.
Dengan cara ini, konsumen tidak hanya mendapat laporan anggaran yang jelas, tetapi juga jaminan bahwa setiap rupiah benar-benar digunakan sesuai peruntukannya. Inilah salah satu bukti nyata ciri kontraktor syariah amanah yang membedakan Nata Bata dari kontraktor konvensional.
Addendum Biaya Proyek dalam Kontraktor Syariah
Dalam perjalanan sebuah proyek, sering kali muncul perubahan desain atau penambahan pekerjaan yang sebelumnya tidak masuk dalam perhitungan. Di banyak kontraktor konvensional, perubahan ini kerap dijadikan celah untuk menambah biaya secara sepihak, tanpa persetujuan tertulis dari pemilik proyek. Akibatnya, klien merasa dirugikan karena anggaran membengkak tanpa kendali.
Berbeda dengan itu, ciri kontraktor syariah yang amanah adalah selalu membuat addendum resmi untuk setiap perubahan. Addendum ini disusun secara tertulis, menjelaskan pekerjaan tambahan, rincian biaya, serta disepakati oleh kedua belah pihak. Dengan begitu, tidak ada ruang untuk manipulasi atau “biaya siluman”. Proses ini mirip prinsip yang dijelaskan dalam kontrak kerja proyek renovasi, di mana setiap perubahan harus disahkan secara tertulis agar sah dan transparan.
Di Nata Bata, setiap perubahan pekerjaan wajib dituangkan dalam addendum yang jelas. Klien diberi kebebasan untuk menyetujui atau menolak sebelum pekerjaan tambahan dilaksanakan. Proses ini menjaga prinsip transparansi biaya sekaligus melindungi hak-hak konsumen agar tetap amanah dan sesuai syariah.
Menggunakan Rekening Resmi dan Sistem Keuangan Amanah — Ciri Kontraktor Syariah Profesional
Ciri kontraktor syariah tidak hanya terlihat dari akad dan transparansi biaya, tetapi juga dari cara mereka mengelola keuangan proyek. Kontraktor syariah profesional selalu menggunakan rekening resmi perusahaan untuk menerima pembayaran, bukan rekening pribadi apalagi pihak lain yang tidak bertanggung jawab. Dengan cara ini, alur keuangan proyek menjadi amanah, mudah diaudit, dan jauh dari praktik yang meragukan.
Selain itu, dana proyek (dana wakalah) harus dipisahkan dari dana operasional perusahaan. Pemisahan ini penting agar tidak terjadi pencampuran uang klien dengan biaya internal, sehingga setiap rupiah jelas peruntukannya. Kontraktor syariah yang benar juga berani memberikan laporan arus kas proyek secara transparan kepada pemilik. Inilah bukti nyata amanah dan profesionalitas dalam mengelola proyek sesuai syariah.
Pemisahan Dana Proyek dan Operasional
Salah satu indikator penting dari ciri kontraktor syariah profesional adalah bagaimana mereka mengelola keuangan proyek. Kontraktor yang amanah selalu memisahkan dana proyek dari dana operasional internal perusahaan. Tujuannya jelas: agar uang klien benar-benar digunakan sesuai peruntukannya, tanpa tercampur dengan kebutuhan lain.
Inilah yang dipraktikkan di Nata Bata. Dana yang diterima dari klien disebut sebagai dana wakalah, yaitu amanah yang harus dikelola murni untuk kepentingan proyek. Dana ini tidak pernah dipakai untuk menutup biaya operasional internal Nata Bata, seperti gaji staf kantor, listrik, atau kebutuhan administrasi. Semua kebutuhan internal ditanggung dari sumber pendapatan lain yang halal dan jelas.

Lebih jauh lagi, dana wakalah milik konsumen satu tidak pernah digunakan untuk proyek konsumen lain. Tidak ada istilah “cross project” di Nata Bata. Setiap proyek memiliki alokasi dana sendiri yang dipisahkan secara tegas.
Jika ada kondisi di mana seorang klien terlambat memberikan dana wakalah, Nata Bata bisa membantu melanjutkan pekerjaan dengan menggunakan dana operasional internal perusahaan, namun hal ini dilakukan dengan akad hutang piutang yang transparan dan dicatat dengan jelas.
Dengan sistem seperti ini, alur keuangan tetap bersih, amanah, dan sesuai syariah. Klien bisa yakin bahwa setiap rupiah dana wakalah hanya dipakai untuk proyeknya sendiri, bukan untuk kepentingan lain.
Laporan Keuangan Kontraktor Syariah yang Transparan
Selain memisahkan dana proyek dari dana operasional internal, ciri kontraktor syariah yang amanah juga terlihat dari cara mereka menyajikan laporan keuangan kepada klien. Transparansi bukan sekadar janji, tetapi diwujudkan dalam dokumen yang bisa diverifikasi langsung oleh pemilik proyek.
Di Nata Bata, setiap klien menerima laporan pertanggungjawaban penggunaan dana dalam format yang rapi dan mudah dipahami, antara lain:
- Jurnal keuangan proyek yang mencatat seluruh arus kas masuk dan keluar.
- Neraca kas yang menunjukkan posisi saldo dana wakalah di setiap tahap.
- Scan nota asli dari setiap pembelian material dan pembayaran tukang sebagai bukti transaksi.

Dengan sistem ini, klien tidak hanya melihat angka, tetapi juga memiliki bukti konkret penggunaan dana. Transparansi seperti ini membuat konsumen tenang, karena setiap rupiah bisa dipertanggungjawabkan. Inilah salah satu bentuk nyata bagaimana kontraktor syariah profesional menjaga amanah dan kepercayaan.
Kasus Nyata: Dana Proyek Masuk Rekening Satpam
Seperti kasus yang sudah disebutkan di atas, ada laporan bahwa pembayaran proyek justru diarahkan ke rekening pribadi seorang satpam, bukan ke rekening resmi perusahaan. Praktik semacam ini jelas menyalahi prinsip amanah dan transparansi yang seharusnya menjadi ciri kontraktor syariah.
Namun, kembali perlu kami ingatkan bahwa hingga saat ini belum ada sumber kredibel lain yang menguatkan kabar tersebut selain laporan dari Kilat.com . Karena itu, kasus ini tidak bisa dihukumi secara pasti benar atau salahnya. Fokus kita bukan pada sosoknya, melainkan pada pelajaran dari praktik yang mungkin terjadi di lapangan.
Pelajaran dari Kasus Kontraktor Syariah Bermasalah
Jika Anda menemukan kontraktor yang meminta pembayaran melalui rekening pribadi atau pihak ketiga yang tidak berwenang, maka patut dicurigai. Ciri kontraktor syariah yang amanah justru kebalikannya: pembayaran hanya melalui rekening perusahaan resmi, sehingga arus kas dapat dipertanggungjawabkan dan diaudit dengan jelas.
Memegang Teguh Nilai Amanah — Ciri Kontraktor Syariah yang Jujur
Amanah adalah ruh dari setiap transaksi syariah, termasuk dalam proyek konstruksi. Ciri kontraktor syariah yang jujur selalu tercermin dari sikap amanah mereka dalam bekerja. Bukan hanya soal menepati janji waktu atau menyelesaikan proyek tepat sesuai kontrak, tetapi juga bagaimana mereka menjaga kepercayaan klien pada setiap detail pekerjaan.
Kontraktor syariah terpercaya tidak akan mengganti material dengan kualitas lebih rendah, tidak mengurangi volume pekerjaan, dan tidak menyembunyikan masalah di lapangan.
Mereka justru proaktif melaporkan progres, kendala, maupun solusi yang diperlukan. Inilah yang membuat kontraktor syariah amanah berbeda dengan kontraktor biasa—mereka menempatkan kepercayaan klien sebagai amanah yang harus dijaga sebaik mungkin.
Amanah Bukan Sekadar Branding Kontraktor Syariah
Banyak kontraktor menempelkan kata “syariah” pada spanduk atau brosur hanya untuk menarik minat konsumen Muslim. Padahal, ciri kontraktor syariah yang benar tidak berhenti pada label, tetapi tercermin dari sikap amanah dalam setiap aspek kerja. Amanah berarti menepati janji, menjaga kepercayaan, dan tidak mencari keuntungan dengan cara yang merugikan pihak lain.
Kontraktor syariah yang amanah akan memastikan akad jelas, biaya transparan, serta dana proyek dikelola sesuai peruntukannya. Mereka tidak mencari celah dari markup tersembunyi, tidak mengganti material dengan kualitas lebih rendah, dan tidak meninggalkan pekerjaan sebelum tuntas. Inilah yang membedakan antara sekadar branding dengan praktik nyata, sekaligus menjadi bagian penting dari tips memilih jasa kontraktor terpercaya agar Anda tidak tertipu label semata.
Pada akhirnya, amanah adalah nilai inti yang menjadi pembeda. Label bisa dicetak di brosur oleh siapa saja, tetapi sikap jujur, transparan, dan bertanggung jawab hanya dimiliki oleh kontraktor syariah yang benar-benar berkomitmen pada prinsip Islam.
Memberikan Garansi Pekerjaan — Ciri Kontraktor Syariah Berkualitas
Kontraktor yang hanya mengejar keuntungan biasanya langsung lepas tangan setelah proyek selesai.
Berbeda dengan ciri kontraktor syariah berkualitas, mereka berani memberikan garansi pekerjaan. Garansi ini menjadi bukti nyata tanggung jawab kontraktor terhadap hasil akhir proyek, sekaligus wujud komitmen menjaga amanah.
Dengan adanya garansi, Anda tidak perlu khawatir bila terjadi kerusakan akibat kesalahan teknis dalam periode tertentu. Kontraktor syariah profesional akan memperbaikinya tanpa biaya tambahan. Sikap ini menunjukkan bahwa orientasi mereka bukan sekadar menyelesaikan proyek, tetapi memastikan kualitas terjaga dan kepercayaan klien tetap kuat.
Garansi inilah yang membedakan kontraktor syariah dari praktik yang berisiko menimbulkan kesalahan fatal bangun rumah yang kerap merugikan pemilik proyek.
Tips Tambahan Memilih Kontraktor Syariah
Selain memahami lima ciri utama di atas, ada beberapa langkah praktis yang bisa membantu Anda memastikan pilihan jatuh pada kontraktor syariah yang benar-benar amanah.
Ciri kontraktor syariah terpercaya tidak hanya terlihat dari akad, transparansi biaya, atau garansi pekerjaan, tetapi juga dari reputasi, legalitas, dan testimoni klien sebelumnya.
Dengan melakukan verifikasi sederhana—seperti memeriksa legalitas usaha, mengecek portofolio proyek yang pernah ditangani, memastikan rekening resmi perusahaan, hingga mencari ulasan dari klien lain—Anda akan lebih yakin bahwa kontraktor yang dipilih memang sesuai prinsip syariah.
Tips ini penting agar keputusan Anda tidak sekadar berdasarkan label, melainkan pada bukti nyata amanah dan profesionalitas.
Cek Legalitas dan Portofolio Kontraktor Syariah
Langkah pertama dalam memilih kontraktor syariah adalah memastikan legalitasnya. Ciri kontraktor syariah terpercaya biasanya berbadan hukum jelas, memiliki alamat kantor yang bisa dikunjungi, dan memiliki portofolio proyek terdokumentasi. Legalitas dan portofolio ini menunjukkan keseriusan serta profesionalitas kontraktor dalam menjalankan amanah.
Pastikan Akad & Rekening Resmi
Kontraktor syariah amanah tidak akan memulai pekerjaan tanpa akad tertulis yang sah. Akad harus menjelaskan hak dan kewajiban masing-masing pihak secara detail. Selain itu, pastikan setiap pembayaran hanya dilakukan melalui rekening resmi perusahaan. Hal ini penting agar dana proyek terjaga transparansinya dan tidak bercampur dengan kepentingan lain.
Cari Testimoni Klien Sebelumnya
Salah satu cara paling mudah untuk menilai ciri kontraktor syariah yang bisa dipercaya adalah dengan melihat pengalaman orang lain. Baca testimoni, ulasan, atau minta kontak klien sebelumnya. Kontraktor yang amanah dan profesional tidak akan keberatan jika calon klien ingin memastikan reputasinya. Dari sini, Anda bisa menilai konsistensi mereka dalam menjaga kepercayaan, sekaligus memastikan bahwa nilai syariah benar-benar dijalankan sebagaimana pada konsep rumah tanpa riba.
Kesimpulan Ciri Kontraktor Syariah yang Bisa Dipercaya
Dari pembahasan di atas, jelas bahwa ciri kontraktor syariah yang bisa dipercaya tidak hanya sekadar label atau jargon pemasaran.
Ia tercermin dari akad yang jelas dan tegas, transparansi biaya, penggunaan rekening resmi, sikap amanah, hingga pemberian garansi pekerjaan. Semua ini menjadi penanda bahwa kontraktor benar-benar bekerja sesuai prinsip muamalah Islam yang menuntut kejujuran dan profesionalitas.
Bagi Anda yang sedang merencanakan pembangunan atau renovasi, jangan hanya terbuai dengan promosi manis. Kenali lebih dalam ciri kontraktor syariah yang amanah dan terpercaya, agar proyek tidak hanya selesai secara teknis, tetapi juga selaras dengan nilai keadilan dan keberkahan dalam Islam.
Untuk langkah praktis, Anda bisa mulai dengan melihat layanan Nata Bata dan berbagai portfolio proyek yang sudah pernah kami kerjakan. Atau, langsung kunjungi beranda resmi Nata Bata untuk mengenal lebih dekat komitmen kami sebagai kontraktor syariah amanah.
